>Wartawan Jadi Social Entrepreneur 2010


>Stasiun radio KBR68H bermodalkan awal US$300 ribu, berasal dari bantuan Asian Foundation.
Siapa bilang seorang jurnalis tidak mampu bersaing dengan para tokoh bisnis? Pelaku bisnis radio dan seorang wartawan media elektronik, Santoso, yang tercatat sebagai Managing Director Stasiun Radio KBR68H berhasil terpilih sebagai Ernst and Young Enterpreneur of The Year 2010 untuk kategori bidang sosial, “Social Entrepreneur”.

“Saya tidak menduga karena kita tidak mengetahui proses penjuriannya seperti apa. Saya baru di-interview Rabu kemarin (24 November 2010),” ujar Santoso ketika ditemui VIVAnews usai acara Ernst and Young Enterpreneur 2010, tadi malam.

Stasiun radio yang berdiri pada April 1999, bertempat di Utan Kayu ini memiliki misi yaitu menyediakan informasi yang baik pada masyarakat Indonesia melalui radio. Dengan mengedepankan program-program jurnalistik seperti berita, talk show, dan lain-lain.

Namun, agar program berita yang selama ini identik membosankan dikemas dengan membuat berita yang lebih menarik tanpa menghilangkan standar jurnalisme.

“Standar jurnalismenya harus benar. Sebab, sekarang orang concern pada mutu jurnalisme yang tidak berpihak, yang memberi manfaat luas dengan informasi yang berguna,” kata Santoso.

Santoso mejelaskan latar belakang lahirnya stasiun radio ini adalah karena melihat kekosongan yang terjadi pada pemberitaan melalui radio paska reformasi 1998. Saat era Orde Baru memang siaran berita melalui radio sangat dibatasi dan hanya RRI (Radio Republik Indonesia) saja yang boleh direlay oleh stasiun radio swasta. Namun ketika sudah reformasi dan adanya kebebasan dan keterbukaan informasi, momentum inilah yang ia jadikan awal untuk membuat program berita sendiri.

“Jadi, waktunya tepat sekali untuk KBR68H dan kebutuhan informasi pada saat itu tinggi sekali, ditambah lagi kompetisi pada waktu itu belum besar,” tutur Santoso.

Sebelum menjadi seorang entrepreneur, Santoso adalah seorang wartawan dan tidak pernah terpikir menjadi seorang wirausaha. Namun, karena faktor melihat kebutuhan akan informasi itulah yang membuatnya memulai usaha ini. Tapi ia mengaku tetap ingin menjadi seorang wartawan, karena tetap memberikan informasi.

“Namun, ketika kita sudah memiliki sebuah lembaga banyak hal yang harus dipikirkan bagaimana keberlanjutannya dan ada sumber daya manusia yang harus dijamin. Hal ini lah yang mendorong menjadi entrepreneur,” ujarnya.

Stasiun radio KBR68H bermodalkan awal US$300 ribu yang berasal dari bantuan Asian Foundation, MDLF, Kedutaan Belanda, dan lain sebagainya, dan awalnya berbentuk LSM dan pada tahun 2000 baru mulai berubah menjadi PT (Perseroan Terbatas).

“Perkembangannya stasiun radio ini cepat sekali, dulu hanya tujuh stasiun radio yang me-relay berita kami, sekarang sudah hampir 800 yang me-relay. Dan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di 10 negara di Asia (Kamboja, Thailand, Myanmar, Filipina, Afganistan, Pakistan dan Bangladesh, Nepal dan Pakistan), karena kami juga memilki program untuk Asia,” ujar Santoso.

Mengenai kiat sukses, Santoso mengaku kuncinya ialah “tujuan yang baik harus dikejar dengan upaya yang bagus juga, dan jangan menyerah pada kesulitan.”

Sementara itu, Edwin Soeryadjaya dinobatkan sebagai “Wirausahawan Indonesia Tahun 2010”, Rawono Sosrodimulyo (PT Aditec Cakrawiyasa) menjadi pemenang dalam kategori “Manufacture Innovation Award”, dan Tan Eng Liang (SOHO Group) menjadi pemenang dalam kategori “Health Product Innovation Award”. (kd)
• VIVAnews