>Ribuan Warga dari 5 Desa di Majene Mengungsi ke Perbukitan


>Warga lima desa di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, yang diperkirakan jumlahnya ribuan jiwa mengungsi ke perbukitan meninggalkan desanya karena terpengaruh dengan isu tsunami yang beredar melalui SMS dan dari mulut ke mulut.

Lima desa yang warganya mengungsi itu adalah Desa Serindu, Bonte, Rangas, Lalampanua, dan Bababuo. Semuanya di Kabupaten Majene.

Di luar itu, sejumlah warga desa lainnya di pesisir pantai Majene dikabarkan mengungsi juga.

Di Kelurahan Lalampanua misalnya sekitar 100 warganya ikut meninggalkan rumah akibat isu tsunami. Lurah Lalampanua Akbar Tambaru mengatakan isu tsunami akan mengguncang desanya sudah terdengar sejak empat hari lalu.

“Puncaknya warga tinggalkan rumah semalam beramai-ramai. Masyarakat panik padahal kami sudah mengingatkan tidak ada apa-apa tunggu informasi dari pemerintah,” kata Akbar melalui sambungan telepon kepada Tribunnews.com, Jumat (26/11/2010).

Informasi yang beredar itu menyebutkan tsunami akan mengguncang wilayah Polman (Polewali Mandar) hari ini 26 November 2010. “Tapi Alhamdulillah tidak ada apa-apa. Warga masih banyak yang belum pulang ke rumah,” kata Akbar.

Hal senada dikemukakan Sekretaris Desa Desa Bababuo Taufiq. Kepada Tribunnews.com, Taufiq mengatakan isu tsunami membuat ribuan warga dari berbagai desa di sepanjang pesisir Polman mengungsi ke perbukitan.

“Ratusan warga kami mengungsi. Rumah-rumah kosong ditinggalkan,” kata dia.
Dia juga mengakui isu tsunami akan melanda pesisir Majene sejak empat hari lalu.

“Sejak itu masyarakat gelisah. Kami sudah imbau jangan percaya isu macam-macam tapi tidak dipedulikan,” kata dia.

Dikonfirmasi terpisah, Anggota DPD RI asal Sulawesi Barat Muh Asri Anas meminta masyarakat tetap tenang dan beraktivitas seperti biasanya serta tidak terpengaruh dengan isu tsunami.

“Kalau ada potensi tsunami, masyarakat diharapkan mendengarkan sumber informasi resmi dari pemerintah dan BMKG. Masyarakat agar tetap tenang jangan terpengaruh dengan informasi yang menyesatkan,” kata Asri.

Dia mengatakan DPD akan perjuangkan di Majene ditempatkan satu alat pendeteksi tsunami. “Memang di Majene pernah ada sejarah tsunami tahun 60-an. Itulah kenapa masyarakat di sana panik. Namun kami sudah beri imbauan dan turun ke lapangan memantau langsung,” kata Asri yang juga Ketua Timja pembahasan RUU Geospasial ini.

Dia mengimbau aparat polisi mengusut penyebar isu tsunami karena telah meresahkan masyarakat.