>Menguak Kendala Pemberian Imunisasi


>ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sebanyak 4,5 juta kematian dari 10,5 juta per tahun terjadi akibat penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan imunisasi. Seperti pneumococcus (28 persen), campak (21 persen), tetanus (18 persen), rotavirus penyebab diare (16 persen), dan hepatitis B (16 persen).

Dari data WHO ini diperkirakan setidaknya 50 persen angka kematian di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi. ”Sayangnya, Indonesia termasuk sepuluh besar negara dengan jumlah terbesar anak tidak tervaksinasi,” ujar Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof Dr Sri Rezeki Hadinegoro SpA (K) pada acara Simposium Nasional Imunisasi di Jakarta pekan lalu.

Padahal, kata Sri, imunisasi sekarang ini semakin mudah diperoleh di mana saja. Pemberian imunisasi dilakukan di tempat pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik bersalin, puskesmas, posyandu,hingga praktik dokter swasta.

Setiap tahun imunisasi rutin dilakukan terhadap sekitar 4,5 juta anak usia 0–1 tahun. Imunisasi rutin itu mencakup BCG, polio, DPT/HB, dan campak. Lewat program Bulan Imunisasi Anak Sekolah, anak-anak diberikan kembali imunisasi campak dan tetanus difteri. Sementara ibu hamil diberi vaksin tetanus toxoid.

Salah satu yang menjadi ganjalan program ini adalah letak geografis yang sulit dijangkau. Akibatnya, pelayanan tidak bisa dilakukan setiap bulan. Cakupan imunisasi campak pada 2009 mencapai 92,1 persen, tetapi jumlah ini belum merata. Sejumlah daerah seperti Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Barat, masih rendah cakupannya. Masih ada kantong-kantong dengan cakupan imunisasi rendah sehingga dapat menimbulkan kejadian luar biasa campak.

Sebaiknya berbagai kendala tersebut harus diatasi. Mengingat begitu pentingnya imunasasi bagi seseorang. Terbukti imunisasi bisa mencegah bayi dari serangan berbagai penyakit. Difteri, misalnya. Penyakit difteri termasuk penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphtheria. Bakteri tersebut bersarang dan berkembang biak dalam tenggorokan dengan toksin yang sangat kuat. Penularannya bisa terjadi melalui udara atau cipratan sewaktu si penderita batuk atau bersin.

Toksin dari bakteri itu dapat merusak saluran pernafasan dan masuk ke dalam aliran darah hingga bisa menyebabkan kelainan pada organ tubuh yang penting, misalnya jantung. Penyakit tersebut terutama menyerang anak-anak usia balita, padahal difteri bisa ditangkal dengan imunisasi DPT.

Imunisasi juga ampuh mencegah dari penyakit pertusis. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri bordetella pertusis yang bersarang di saluran pernafasan. Penyakit yang mudah menular tersebut digolongkan sebagai penyakit berat pada bayi.
(SINDO//tty)