>Refleksi 65 tahun Hari Guru


>

   


Opini
YULHASNI
Pilihan menjadi guru bagi setiap orang memiliki banyak alasan. Jika kemudian pilihan itu telah dijalani hingga sekarang, tentu saja karena setiap orang pada hakikatnya ingin bertahan dengan pilihan itu. Bertahan pada satu kecintaan yang dilematis : mengabdi dan kesejahteraan.

Guru adalah profesi yang telah eksis sejak sejarah peradaban manusia ada. Guru diyakini sebagai salah satu penjamin keberlangsungan peradaban itu sendiri. Guru adalah fasilitator ilmu dan ketauladanan. Guru itu tidak sekedar digugu dan ditiru (diperhatikan dan dicontoh).

Meski kita ketahui bahwa akhirnya kedudukan maha penting itu tidak sebanding dengan ironi yang dulu terlalu lama mereka sandang : hidup pas-pasan dan terkadang harus terseok-seok menghidupi diri dan keluarganya. Ironi itu yang perlahan namun pasti mulai dipupus pemerintah lewat alokasi anggaran negara untuk sektor pendidikan.  Itu pun hadir setelah 63 tahun Indonesia Merdeka. Pemerintah pada tahun anggaran 2009 akhirnya memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945, yaitu dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara (APBN).

Pada tataran perjuangan kesejahteraan, mungkin problem guru sedikit teratasi. Itu artinya bahwa sekarang menjadi guru bukan lagi pilihan yang dilematis melainkan sebuah pilihan yang prestisius. Jika dulu guru berjalan dalam kesunyian, kini guru berjalan dengan tubuh tegak berdiri. Seolah ingin berkata, ’’Saya adalah guru.’’ Presitius karena di tengah sulitnya mencari lahan pekerjaan, profesi guru kemudian jadi incaran. Lihatlah, di perguruan tinggi yang menyediakan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP), ribuan orang kemudian berlomba-lomba mendaftar. Tujuannya mereka hanya satu : menjadi guru.

Minat yang begitu besar menjadi guru saat ini tentu saja sebuah kegembiraan. Apalagi hal itu dikaitkan dengan keluhan bertahun-tahun negara ini tentang kurangnya tenaga guru yang profesional dan terdidik. Akan tetapi, apakah minat besar itu berdampak kepada lahirnya generasi berkelas? Bukankah minat besar itu lahir dari keinginan berubahnya nasib dan masa depan? Jangan-jangan, ini yang menjadi kekuatiran terbesar kita, tingginya minat orang menjadi guru karena kebijakan sertifikasi guru yang telah dijalankan pemerintah, bahwa gaji guru yang telah lolos sertifikasi akan dinaikan dua kali lipat?

Berbagai pertanyaan itu menjadi catatan penting kita dalam merefleksikan 65 Tahun Hari Guru Indonesia. Kita tidak lagi bicara soal gelapnya kesejahteraan guru karena matahari telah menampakkan sinarnya. Mari kita sama-sama merefleksikan satu hal, tentang betapa sulitnya hari ini kita mencari guru sejati. Guru yang benar-benar menjadi ’guru’. Refleksi itu mungkin telah banyak diadopsi orang dari cara bekerja seorang guru dalam novel laris Laskar Pelangi. Dia adalah Bu Muslimah Hafsari, guru SD Muhammadiyah Belitung. Anis Baswedan menyebutnya sebagai  ‘The Muslimah Effect’: Inspiring Teachers.  Ia menulis,  inilah ‘The Muslimah Effect’: seorang pengajar yang inspiratif akan melahirkan dampak yang besar dalam perjalanan hidup anak didiknya –dan akan membesar seperti bola salju karena semangat itu kemudian menular (dalam kasus Laskar Pelangi, penularan semangat itu dalam skala besar). ‘The Muslimah Effect’ ini pun bisa terjadi dalam arah yang terbalik. Sebagai contoh, kehadiran para pengajar yang menciptakan demotivasi dapat mematikan semua potensi anak didik yang sedang tumbuh. Matematika yang sulit (tapi menantang) dapat menjadi ‘mengerikan’ di tangan pendidik yang kurang tepat. Demikianlah, kunci utama dari pendidikan adalah para pendidiknya itu sendiri.

Guru sejati adalah sumber inspirasi murid. Metode pengajaran di sekolah bukanlah hamparan monolog para guru. Ruang kelas, sejatinya adalah tempat ruang bagi murid dan guru berinteraksi. Bu Muslimah telah menerapkan interaksi itu lewat kesejatian seorang guru. Ia mengajarkan bahwa murid memiliki multi talenta. Tidak ada murid pintar hanya ketika ia mendapat nilai 9 di bidang matematika. Tidak ada murid yang bodoh jika ia tak mampu menyelesaikan soal-soal fisika. 

Filosofi mengajar harus kita garisbawahi masih dimiliki oleh guru-guru yang kini telah memasuki senja. Filosofi mereka adalah bagaimana muridnya berhasil. Filosofi itu telah mereka kerjakan bertahun-tahun tanpa mereka perdulikan apakah pendapatan sesuai dengan pekerjaan. Di berbagai pelosok desa di tanah air, guru-guru yang memiliki filosofi itu masih terus melakukan aktivitasnya tanpa (barangkali) mereka mengerti apa itu sertifikasi guru. Barangkali mereka juga tidak berkeinginan bergaji besar jika dibandingkan dengan kualitas yang mereka ajarkan ke murid-muridnya. Filosofi luhur itulah yang kini tergerus oleh arus deras konsumerisme pendidikan kita. Iming-iming bergaji besar menyebabkan banyak orang yang ingin jadi guru.

Orientasi dan motivasi dalam memilih profesi guru harus dikritisi bagi setiap orang yang menetapkan pilihannya. Generasi apa yang akan dibentuk oleh orang-orang yang bermotivasi jadi guru karena persoalan reward?  Apakah gaji yang kecil selalu jadi alasan akar masalah dari kualitas guru? Apakah peningkatan gaji akan meningkatkan kualitas guru? Apakah universitas pendidikan tidak cukup layak mendidik calon-calon guru? Saya membaca sejumlah aksi unjukrasa guru terkait kesejahteraan dan perjuangan nasib. Saya juga mencoba mendalami apakah tuntutan untuk menjadi PNS oleh guru-guru yang honorer (guru bantu) itu sebagai wujud pengabdian hakiki seorang guru?

Sejumlah pertanyaan mendasar itu akan terus muncul seiring dengan tingkat kebutuhan tenaga guru yang selalu kurang di Indonesia. Kekeliruan besar adalah saat terjadi misorientasi memilih profesi guru. Berlomba-lomba jadi guru mestinya juga harus diiringi dengan keinginan yang mulia : mendidik. Bukankah filosofi guru yang sejati itu harus dibekali ilmu batin? Seorang guru tidak akan pernah menjadi guru yang baik jika tidak memiliki tentang penguasaan diri, ilmu kesabaran, ilmu menahan nafsu, ilmu kelemahlembutan dan ilmu kasih. Mengajar adalah hak untuk diraih dan diberikan oleh siswa.

Belajar melibatkan semua aspek kepribadian manusia, pikiran, perasaan, bahasa tubuh, pengetahuan, sikap dan keyakinan untuk berhasil. Untuk dapat menjalankan itu semua, seorang guru harus bisa memasuki dunia siswa. Untuk menarik keterlibatan siswa, guru harus menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Hubungan akan membangun jembatan menuju kehidupan-bergairah siswa, membantu membuka jalan memasuki dunia-baru mereka, dan berbicara dengan bahasa hati-mereka. Membangun hubungan memerlukan niat, kasih sayang dan rasa saling pengertian. Bu Muslimah dalam lakon Laskar Pelangi telah lama mengajarkan bagaimana sejatinya jadi seorang guru. Ia adalah ikon guru yang ideal dalam tataran dunia pendidikan kita.

Orientasi yang keliru memilih profesi guru akan berdampak pada hasil yang diperoleh. Di saat pemerintah memberikan penghargaan materi yang mulai membaik dan di saat itu pula orang berlomba-lomba menjadi tenaga pendidik, maka akan lahirnya tenaga pendidik yang mengajar tanpa filosofi guru. Istilah ’kejar tayang’ akan menggejala dalam proses mengajar. Kita perlu merefleksikan banyak hal tentang guru. Tidak hanya soal kesejahteran, tapi lebih dari itu, bagaimana mencari guru yang sejati di negeri ini. Guru-guru yang kita yang sudah di usia senja, yang mengabdi tanpa pamrih adalah contoh ideal. Marilah kita berguru kepadanya agar kita bisa jadi guru yang sejati.

Penulis Dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) UMS