>Air Mata Sang Guru


>

Oleh : Tony,SH.,SpN.,M.Kn.
Sebuah pepatah Tiongkok kuno berbunyi : Jun Tse Zhong Dao yang artinya: Hormatilah guru dan utamakan moralitas.
Ketika kota Nagasaki dan Hirosima hancur dibom pasukan PBB pada Agustus 1945, kaisar Jepang amat sedih menyaksikan begitu luluh lantaknya kedua kota tersebut dan banyak sekali korban yang berjatuhan, sehingga negeri agresif ini terpaksa harus menerima kekalahan perang.
Pertanyaan pertama yang dilontarkannya: “Masih adakah guru yang tersisa di negeri ini ? ” Ada ” jawab penasehatnya, maka sang kaisar dengan semangat secara spontan berujar: Negeri kita masih punya harapan. Dan…ternyata benar negeri Sakura ini kemudian bangkit dan sempat “menjajah” dunia terutama negara Asean lainnya lebih dari dua dekade di sektor ekonomi.
Jangan katakan Anda bermoral, apabila guru saja tak pernah Anda hormati. Tulisan ini diangkat berhubung sudah menjadi fenomena umum pada abad ini, abad edan namanya. Profesi guru tidak lagi dipandang sebagai profesi terhormat. Di satu sisi, ia ditempatkan menjadi tumpukan harapan masa depan anak-anak dan sekaligus di sisi lain menjadi kambing hitam bila anak-anak melakukan kesalahan.
Ironisnya, sang guru pun tidak dapat berkutik menghadapi kenyataan ini, karena ketidak-seimbangan kedudukan sosial dan ekonomi seorang guru dengan orang tua murid pada umumnya.
Sekali waktu saya pernah bertemu dengan seorang guru yang bertugas sebagai BP (Bimbingan dan Penyuluhan), lalu kami berdiskusi panjang lebar tentang kenakalan remaja khususnya mengenai perilaku negatif para anak didik di lingkungan sekolahnya. Pak guru tersebut berbicara dengan semangat berapi-api tentang kasus demi kasus yang pernah ia hadapi, seolah-olah mempunyai bahan cerita yang tak pernah habis.
Ketika pembicaraan kami menyinggung penanganan kenakalan murid, mimik sang guru merubah menjadi suram dan ia-pun berdiam seribu bahasa. Lama….dan akhirnya ia bersuara dengan pelan : “Sulit bung, masa sekarang tidak seperti dulu lagi. Kami guru-guru tidak berdaya menghadapi kenyataan. Jangankan murid itu diberikan hukuman fisik, ditegur agak keras saja kadang-kadang kelanjutannya kita akan berhadapan dengan arogansi orang tuanya atau somasi pengacaranya dengan tuduhan macam-macam.”
Lama kelamaan kami para pendidik terpaksa bersikap apatis dan acuh dari pada harus repot dengan urusan yang tidak perlu. sehingga pepatah kuno tadi berubah wujud menjadi “Taatilah murid dan ikuti seleranya,”
“Kami juga merasa tidak tega, hati kecil kami juga berontak,” lanjut pak guru tadi.
Guru mengemban tugas yang mulia, mencerdaskan anak bangsa,mengajarkan ilmu pengetahuan, memberikan pendidikan moral dan melatih keterampilan siswa-siswanya. Guru selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai orang tua di depan anak didiknya, senantiasa memberi motivasi ketika siswa dalam kebimbangan.
Guru juga sebagai penasehat yang baik dan sekaligus dapat memberikan teguran yang keras bila kesalahan siswanya sudah melampaui batas. Dalam kehidupan sosial, ia dituntut menjadi sosok keteladanan, dianggap sebagai orang yang terpelajar dan diharapkan dapat menyumbangkan ide-ide yang dapat memajukan kesejahteraan masyarakat.
Penghasilan vs Pengabdian
Demikian besar tuntutan dan harapan yang dititipkan masyarakat kepada sang guru yang berstatus sosial dengan penghasilan yang relatif pas-pasan, bahkan serba kekurangan dalam sisi ekonomi dan minus perhatian dari pemerintah. Ada seorang teman yang mantan profesi guru yang menuturkan kepada saya, bahwa ia pernah menerima THR sebesar Rp.30.000,- dari sekolah tempat ia mengajar.
Di Bekasi, Jawa Barat, masih banyak guru yang merangkap profesi tukang ojek, sebut saja namanya Pak Hidayat, seorang guru honor yang berpenghasilan Rp. 200.000,- per bulan, terpaksa harus menarik ojek pada sore hingga malam hari untuk menafkahi seorang istri dan 4 orang anaknya di dalam rumah kontrakannya, yang rata-rata memperoleh Rp.30 – 40 ribu setiap hari.
Meskipun sebagai tukang ojek dapat mempunyai penghasilan yang lebih besar, namun ia tidak berniat meninggalkan profesinya sebagai tenaga pendidik, karena punya keinginan ikut serta mencerdaskan anak bangsa. Sebuah cita-cita yang luar biasa. Inilah sketsa nyata yang memprihatinkan terhadap kehidupan profesi guru di tanah air.
Bu Muslimah, seorang tokoh nyata yang mempunyai peran penting dalam film Laskar Pelangi, mengabdikan diri sepanjang hidupnya sebagai guru sekolah dengan merintis kariernya di SD Muhammadiyah Gantung, Belitung.
Pada usia 16 tahun. Sosok yang begitu gigih memperjuangkan dan mengimpikan perubahan nasib terhadap anak-anak warga di desanya, ia pernah bergaji Rp.7.000,- per bulan bahkan kadang-kadang tidak menerima honor sama sekali. Namun api semangat sudah terlanjur berkobar dan cinta pendidikan sudah terlanjur bersemi di hati sanurani seorang pendidik yang budi luhur dan berjiwa mulia, serta tidak mengenal kata lelah dalam kamus kehidupannya.
Sehingga semangat perjuangannya mengetuk pintu hati pihak pemerintah, dengan wujud penganugrahan Satyalencana Pendidikan oleh Presiden SBY pada hari ulang tahun PGRI ke-63 pada 2 Desember 2008.
Sebagai seorang figur yang bersahaja dan inspirator bagi dunia pendidikan di tanah air, saat ini ia masih mengajar di SDN 6 di Kecamatan Gantung, Belitung.
Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Sampai saat ini tetap menjadi sebatas slogan saja. Jangankan dianggap sebagai pahlawan, dihormati sebagai guru saja sudah langka pada zaman sekarang. Namun ia akan menjadi bulan-bulanan oleh orang tua apabila anak didik berperilaku amoral apalagi sampai tidak lulus Ujian Nasional.
Di kota Medan, seorang guru pernah dilaporkan dan digugat oleh orang tua murid, yang mengklaim kerusakan mata anaknya diakibatkan oleh salah letak posisi krei bambu penutup jendela di samping ruangan kelas, yang menimbulkan pantulan silau pada papan tulis. Karena tidak berdaya sebagai pihak yang lemah yang diharuskan memberikan ganti rugi sebesar Rp.70-an juta kepada pihak keluarga murid, lalu rumah sang guru-pun disita. Akhirnya ia meninggal dunia akibat stres berat dan tidak mampu menahan depresi yang dihadapinya.
Kebahagian tertinggi bagi seorang guru adalah pada saat-saat menyaksikan moment keberhasilan anak didiknya. Keberhasilan siswa tidak terlepas dari didikan yang tegas dan keras dari gurunya, contoh yang paling jelas dapat dilihat dari ketegasan pelatih terhadap atlet yang berprestasi.
Thomas Alva Edison, penemu lampu listrik, pernah mengakui mendapatkan hikmah positif setelah ditampar oleh pimpinannya tempat ia bekerja di kantor telegraf pada usia mudanya, setelah ia melakukan kesalahan.
Dr. Sofyan Tan, seorang tokoh masyarakat yang masih bisa bersyukur karena ditampar gurunya dalam rangka pembinaan disiplin sewaktu ia duduk bangku SMP.
Baru-baru ini, ketika mendengar gurunya yang keras ini, Albert S.Manik (73 tahun), opname di RSUD dr.Pirngadi Medan. Ia tak lupa menyempatkan diri berkunjung dan sembari memberikan bantuan sebagai wujud tanda terima kasih dan kasih sayang kepada sang guru (Analisa,2/10/2010). Sebuah sikap yang patut diteladani.
Martabat dan Perlindungan
Sebuah sekolah di negara Inggeris, guru diperbolehkan untuk dipanggil namanya oleh siswa di sekolah, misalnya siswa bertanya : “Merry (guru), kapan ujian semester musim semi ini dimulai?” Peraturan ini mulai diberlakukan pada awal September 2010. Pertimbangannya adalah demi kedekatan guru-anak didik dan guna menghilangkan rasa canggung antara guru dan siswa.
Menurut saya, inilah awal dari runtuhnya nilai-nilai kehormatan terhadap martabat guru dalam dunia pendidikan. Sulit dibayangkan apabila gaya pendidikan ini masuk di Indonesia, bila terjadi, maka jangan heran ada terjadi tawuran guru dengan murid, karena sudah dianggap punya derajat yang sama.
Namun hal ini tidak bakalan terjadi di negeri ini, karena kita sudah memiliki Undang Undang No.14 tahun 2005. Undang – Undang ini mengatur secara lengkap tentang hak-hak dan perlindungan hukum terhadap guru, mencakup tindakan kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi dan perlakuan tidak adil dari pihak siswa, orang tua siswa, masyarakat, birokrat dan atau pihak lain (pasal 75).
Disisi lain, sudah saatnya Dewan Kehormatan Guru (pasal 44) yang sudah terbentuk hendaknya segera dioptimalkan peranan dan fungsinya. Dewan ini bertugas mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan dapat memberikan sanksi atas pelanggaran guru, serta berhak pula memberikan rekomendasi tentang pelanggaran yang dilakukan oleh guru sebelum dapat ditangani oleh aparat keamanan.
Sehingga guru tidak dapat langsung diperkarakan ke polisi karena orang tua siswa menanggapi secara berbeda atas hukuman yang dijatuhkan oleh sang guru terhadap anaknya.

Tulisan ini dipersembahkan kepada setiap guru, siapapun dia, yang pernah teraniaya. Selamat Hari Guru !*