>Gunakan Sistem Air Seeding, Manfaatkan 5 Helikopter


>Dari Persiapan Penanaman 1 Miliar Pohon
Jumlah lahan kritis di Sulsel sangat memprihatinkan. Karena itu dibutuhkan terobosan baru untuk mencegah terjadinya degradasi lahan.
Jumlah lahan kritis di Sulsel mencapai 600.000 hektar. Padahal, untuk menjaga ekosistem air dan lingkungan, kondisi lahan dan hutan harus terjaga. Karena itu, Pemprov Sulsel memprogramkan reboisasi atau penanaman 1 miliar pohon, khususnya di daerah pegunungan yang sulit dijangkau.
Sistem air seeding dinilai sebagai cara yang tepat untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit untuk ditanami. Air Seeding merupakan cara penaburan benih melalui udara dengan menggunakan pesawat atau helikopter.
“Mantan Wapres kita HM Jusuf Kalla telah bersedia membaktikan lima helikopternya untuk mendukung program ini,” ujar Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulsel saat rapat persiapan pelaksanaan program di ruang rapat Pemprov Sulsel, Senin (22/11). Turut hadir dalam rapat itu, beberapa perusahaan besar dan BUMN, seperti Pertamina, PT Semen Bosowa, PT Hadji Kalla, PT Inco, PT Semen Tonasa, dan Bank Panin. Hadir pula Danlantamal VI Makassar Chairul P.
Syahrul mengungkapkan, biaya penaburan benih dengan sistem air seeding memang agak mahal. Tetapi, jika ditanggung secara bersama-sama akan lebih ringan. Karena itu, ia berharap, sebagian dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan dari perusahaan-perusahaan besar dialokasikan untuk program peduli lingkungan itu.
“Saya mohon ini diprogramkan sama-sama. Untuk uji coba kita mulai untuk tahap awal sepuluh ribu hektar. Kita berharap ini jadi motivasi nasional. Kita akan uji coba 28 November mendatang,” harapnya.
Sementara, Supervisor Panin Bank Wilayah Indonesia Timur, Onny Gappa, mengatakan, air seeding merupakan program yang masih sangat baru. Tetapi, harus pula diprogramkan agar reboisasi yang dilakukan dengan sistem itu juga memberikan nilai bagi masyarakat.
“Kita juga harus membantu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Onny, yang juga Branch Manager Panin Bank Makassar.
Salah satu jenis pohon yang bisa ditanam dengan sistem air seeding yakni Sengon. Efektivitasnya sangat tinggi dan dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam kurun waktu 4-5 tahun, diameternya bisa mencapai 40-60 cm. Harganya pun cukup mahal, sekira Rp300 ribu per batang.
“Air seeding kan hanya untuk daerah yang sulit dijangkau. Kalau untuk daerah yang bisa ditanami manual, kita tetap pakai masyarakat. Kita tinggal buat perjanjian dengan mereka, bisa memanfaatkan tapi tetap menyisakan untuk hutan,” urainya.
Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Muh Restu, menjelaskan, program air seeding pernah dicobakan tahun 1972 di Jawa Tengah tapi sistemnya berbeda dengan yang akan dilakukan Sulsel. Dulu menggunakan pesawat kasa tapi di Sulsel akan memakai helikopter.
“Sistem ini akan membantu reboisasi khususnya daerah-daerah yang pernah mengalami degradasi,” jelasnya.
Jumlah bibit yang akan disebar cukup banyak, sekira 11 ribu bibit per hektar. Jenis bibit, akan disesuaikan dengan lokasi tanam. Kemudian, akan diamati tingkat perkembangannya dalam kurun waktu tertentu. Tingkat keberhasilan dengan sistem air seeding sekira 15% sampai 20%.
“Kami harapkan nantinya daerah benih bisa dipagar permanen sehingga bisa diamati pertumbuhannya,” harapnya.
Adapun biaya yang dibutuhkan untuk program penanaman pohon dengan air seeding sekira Rp350 ribu sampai Rp500 ribu per hektar. Dalam waktu sejam, helikopter bisa menabur 200 juta bibit diatas lahan seluas 100 hektar. Bahan bakar yang dibutuhkan tiap jamnya 400 liter avtur.
“Kalau mau diujicobakan di atas lahan 10.000 hektar, kita membutuhkan dana Rp3,5 miliar,” tandasnya.