>Pelacur-pelacur Itu


>

DINI hari menyambut Fajar saat mulai menyusuri jalan-jalan dalam kota Makassar, Minggu, 21 November. Saat itu jarum jam memang sudah menunjuk angka 02.10 Wita. Sangat wajar jika kota ini sudah masuk kategori metropolitan. Kota Daeng seperti tak pernah tidur. Aktivitas warga masih terlihat meski angin malam sudah sangat dingin.

Dari Graha Pena, FAJAR yang melakukan peliputan soal prostitusi di kota ini meluncur ke Jl AP Pettarani. Memutar di pertigaan Jl AP Pettarani-Jl Sultan Alauddin, kemudian berbelok di Jl Sungai Saddang. Jalan ini cukup dikenal oleh pria-pria hidung belang.

Maklum, Sungai Saddang sejak dulu menjadi tempat mangkal para pelacur yang lazim diperhalus dengan istilah penjaja atau pekerja seks komersial (PSK). Malam itu, terlihat beberapa wanita di depan ruko dengan dandanan seksi tampak berbincang dengan pria.

Lepas dari Sungai Saddang, FAJAR ke arah pantai selanjutnya ke Jl Nusantara. Suasana di jalan yang berhadapan langsung dengan Pelabuhan Makassar ini masih sangat ramai. Bahkan bisa jadi, Nusantara menjadi tempat yang paling ramai dini hari itu.

Suara musik bersahut-sahutan. Terdengar dari beberapa diskotek dan kafe yang berjejer sepanjang jalan yang tak sampai 2 km panjangnya. Kendaraan terparkir di sisi kiri-kanan jalan. Perempuan-perempuan seksi bermunculan dari dalam kafe atau diskotek. Maklum, saat itu memang waktu tutup sudah tiba.

Pria-pria hidung belang tak kalah banyaknya. Mereka saling memberi tanda dengan isyarat, tangan, mata, kepala, hingga bibir. Sebagian tampak berpelukan di pinggir jalan.

“Mau diantar pulang?” tanya pria berboncengan motor ke dua perempuan bertubuh seksi yang melintas di samping FAJAR. Dua wanita yang menggunakan rok di atas lutut itu tampak acuh tak acuh. Dia tetap berjalan sebelum berhenti di salah satu lorong menuju Jl Sulawesi. Dua pria ternyata menunggunya di sana.

Suasana malam itu juga masih terlihat ramai di dekat gedung kesenian Makassar. Beberapa wanita tampak duduk di depan pedagang kaki lima yang berjejer. Di Jl Sudirman juga demikian. Hanya saja, sepanjang jalan ini, pemandangan cukup lain. Dari sekitar kompleks SD Sudirman, berjejer bencong alias waria.

Sekilas sinaran lampu membuat wujudnya tak ubah seorang wanita. Dandanannya juga seksi. Tak jauh dari situ, di sekitar Lapangan Hasanuddin, beberapa semon (sebutan gay) juga terlihat berdiri di pinggir jalan. Golongan ini tak mau disebut bencong sebab pakaian mereka masih seperti lelaki kebanyakan. Yang terdengar berbeda hanya suaranya yang gemulai.

Setelah puas berkeliling, FAJAR kembali lagi ke Jl Sungai Saddang. Beberapa wanita yang tadinya berdiri, ternyata belum bergeser. Karena masih banyak pria di sekitar mereka, FAJAR bergerak ke sekitar lampu merah perbatasan Jl Gunung Latimojong.

Memilih agak ke pinggir sambil menunggu lampu hijau menyala. Saat itu sudah pukul 03.00 Witya. Tiba-tiba dari arah belakang muncul pria pengendara motor.

“Mau perempuan, Bos?” katanya.

Tak lama berselang muncul wanita dengan mengendarai motor bebek. Ia beberapa kali membunyikan klakson memberi tanda. Wanita ini bahkan mengikut hingga ke Jl Latimojong.
“Mau mainkah (mau cari perempuan, red)?” katanya.

“Jangan lihat mukanya, tapi bagaimana servisnya. Kalau mau Rp200 ribu. Mau main di hotel boleh. Ada beberapa yang Rp50 ribu di dekat sini. Ada juga Rp20 ribu kalau mau kamar rumah. Saya jamin aman,” katanya mendesak.

Dia tidak mau menurunkan harga saat ditawar. “Itu harga pas,” katanya seraya memperkenalkan diri. Ia bernisial Ma.

Merasa yang dicari sudah ketemu, FAJAR lalu mengiyakan. Dia langsung memutar motornya bergerak ke Jl Sungai Saddang, lalu berbelok di depan Hotel Maricaya dan tembus ke SMK 8 Makassar. Setelah itu memotong jalan di Jl Monginsidi dan langsung masuk ke halaman parkir Hotel Oriental.

“Di sini aman. Cukup Rp50 ribu bisa sampai siang. Tidak ada penggerebekan,” jaminnya yang disambut senyum pembenaran seorang pria yang bertugas di resepsionis hotel berlantai dua tersebut.
Wanita setinggi sekira 160 cm itu bergerak sangat cepat. Di dalam kamar, tanpa basa basih, ia langsung melepas pakaiannya. FAJAR sendiri memilih langsung ke toilet melepas seluruh atribut jurnalis.

“Saya kerja demi makan dan membiayai dua anakku yang sekolah. Saya dulu punya suami tapi cerai. Kami tak cocok. Saya alumni SMA. Pernah terjaring razia dan dimasukkan ke Panti Rehabilitasi Mattirodeceng tapi saat ke luar saya jadi lonte lagi. Semua pelacur di sini kenal saya. Kami ada 15 orang di Sungai Saddang ini,” katanya sambil memijat FAJAR.

Ia yang lahir 1980 itu bercerita panjang lebar. Soal anaknya. Soal latar belakang keluarganya yang miskin hingga saudara-saudaranya dan mantan suaminya. Dia mengaku lima bersaudara dan punya adik berprofesi sama.

“Kadang dalam semalam saya dapat Rp800 ribu. Tapi sering juga dua hari sama sekali kering. Kalau sudah pukul 05.00 saya pulang ke rumah,” katanya menyebut alamat indekosnya bersama anak-anaknya.

Lama ia memijat FAJAR sebelum menawarkan teman seprofesinya yang lebih muda dan cantik. “Kalau mau, saya panggilkan. Bisa sampai pagi baru pulang,” katanya. Setelah FAJAR mengiyakan ia langsung ke luar menjemput temannya. FAJAR pun berhasil meyakinkan mereka kalau hanya bermaksud dipijat.

Seperti itu fenomena PSK di kota ini. Sangat berani dan beroperasi sampai di jalan-jalan. Sungai Saddang memang cukup dikenal setelah Jl Nusantara yang memang menjadi pusat prostitusi kelas menengah ke bawah di kota ini. Selain di kedua jalan ini, ada juga aktivitas sama di Jl Sumba, Jl Jampea, Jl Tarakan, Jl Sudirman, Jl Masjid Raya, Jl Topaz, Jl Rajawali, Jl Cendrawasih, Jl Gunung Latimojong, Jl Veteran, Jl Perintis Kemerdekaan, Jl Kancil, Jl Ratulangi, Jl Kerung-kerung, hingga Jl Adipura dan Jl Sungai Limboto.

“Di Makassar, ada 1.000 lebih PSK yang beroperasi. Mereka menyebar mulai di jalanan hingga hotel-hotel dan rutin diperiksa setiap tiga bulan,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Ibrahim Saleh. Pesatnya pertumbuhan pelacur berbanding lurus dengan angka penderita HIV/AIDS. Tahun 2010 ini jumlahnya sudah 2.711 atau naik 339 orang dari tahun sebelumnya yang hanya 2.372 Odha.

Makassar sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang memang sudah mengenal perempuan yang bisa melayani hasrat seks pria. Ini menurut Fadli SS, alumni jurusan Ilmu Sejarah Unhas yang menulis skripsi soal Prostitusi di Makassar, berlanjut hingga abad ke-19.

“Tahun 1965 itu yang dikenal kampung pisang dan kota tua. Tahun 1965 sudah pakai mucikari. Sudah puluhan orang PSK saat itu. Kalau seperti Jambas itu baru tahun 80-an,” beber Fadli yang mengaku melakukan penelitian cukup lama dan melakukan wawancara dengan mantan-mantan PSK tahun 60-an dan mucikarinya yang masih hidup.

Untuk saat ini, prostitusi memang berkembang pesat di kota ini. Maklum, selain sangat mudah ditemukan, petugas dan aparat pemerintah juga cukup longgar. Jadi, tidak mengherankan jika bisa ditemukan transaksi seks di kamar-kamar yang disewa Rp10 ribu atau Rp20 ribu per sekali main di Jl Sungai Limboto atau yang murah meriah di Jl Sumba.

“Kalau di Nusantara, dikenal istilah Bandung atau yang biasa. Bandung yang memang cantik itu Rp225 ribu, sementara yang biasa Rp175 ribu,” beber pria, sebut saja Ronald saat ditemui di Jl Boulevard, Minggu kemarin.

Tak hanya di tempat prostitusi terbuka seperti di Jl Nusantara, aktivitas ini juga bisa ditemukan di panti pijat, tempat karaoke atau salon plus. Bahkan menurut Ronald yang cukup paham soal prostitusi, hampir semua tempat pijat memberi layanan plus. Tempat Hiburan Malam (THM) juga menjadi tempat empuk mencari perempuan binal. Hanya saja, kelas mereka lebih di atas. Tarifnya di kisaran Rp400 ribu.

Biasanya mereka memang memilih main di hotel-hotel. Mulai Melati hingga berbintang. Bahkan di hotel-hotel disebut-sebut juga sudah memberikan layanan “wah” berupa PSK asing dengan bayaran lumayan tinggi. Informasi yang berkembang termasuk ada dari Kazakstan dan Eropa Timur lainnya. Soal PSK asing ini sendiri sudah pernah ada yang masuk ke panti Mattirodeceng, yakni dari Malaysia.

Hotel yang menyiapkan fasilitas tempat karaoke juga memberi layanan tempat bersenggama. Beberapa tempat karaoke dilengkapi kamar tidur khusus. Bagi tamu yang datang untuk menyanyi bisa sekalian melampiskan birahinya.

Makassar memang tak ubahnya kota metropolitan lainnya. Perempuan yang bisa memuaskan birahi tak sulit ditemukan. Tak hanya yang memang terjun penuh di dunia hitam ini namun juga yang sampingan. Misalnya pelajar, mahasiswa, karyawan swasta, hingga ibu rumah tangga. Khusus karyawan, termasuk mal dan SPG, ini memunculkan istilah seks after breakfast. Mereka beroperasi pagi atau saat jam usai sarapan dari pukul 07.00 hingga pukul 10.00. Setelah itu masuk kerja.

Di Makassar juga, hasil penelusuran FAJAR juga sudah muncul komunitas perempuan yang khusus datang ke Makassar saat weekend atau akhir pekan. Mereka ini dibooking dari berbagai daerah di luar Sulsel, termasuk Manado. Usai dugem dan melayani tamunya yang mengongkosi selama di Makassar, hari Minggu mereka langsung kembali ke daerahnya lagi. Biasanya mereka kelas elit dengan bayaran tinggi. (tim)

Satu pemikiran pada “>Pelacur-pelacur Itu

  1. >Masya Allah, begitukah keadaan makassar. sangat mengerikan. saya orang selayar malah ga' tau, soalnya sekarang kuliah di Jogja. itu akibatnya kalo kita menganut sistem yang rusak, bukan cuma PSK yang banyak, tapi kemiskinan yang meraja lela. Bahkan sistem yang ada sekarang menjamin keamanan para PSK, contohnya pengalokasian PSK ketempat tertentu. Sistem yang rusak maka siapapun yang ada didalamnya, diapu akan rusak. baik seorang kiyai, ust. dia akan ikut. seperti hadis nabi yang intinya. mereka akan mengikutinya meski masuk kelubang puawan sekalipun.

Komentar ditutup.