>Kegiatan Illegal Fishing Di Perairan Laut Pasilambena Masih Marak.


>Syaifudin : Anggaran Pengawasan Sangat Minim

Kondisi ini dibenarkan Camat Pasilambena, Syaifuddin SE dalam keterangan persnya kepada wartawan hari Minggu, (21/11) malam. Pihaknya tidak dapat memungkiri, bila kegiatan illegal fishing khususnya dentuman suara bom ikan masih kerap mengguncang perairan Pasilambena.
Kendati demikian, dia membantah, pelaku peledakan berasal dari wilayah pemerintahannya. “rata-rata pelaku berasal dari laut Flores, NTT dan Bali, kalaupun, ada nelayan tradisional dari Kecamatan Takabonerate yang masuk ke wilayah Pasilambena, biasanya mereka hanya mencari teripang”.
Masih santernya kegiatan illegal fishing di wilayah pemerintahannya, diakui Syaifuddin terbentur pada kendala kendaraan operasional patroli yang kecepatannya sangat lamban bila dibandingkan dengan kecepatan perahu para pelaku illegal fishing.
Disamping itu juga, dana operasional pengawasan illegal fishing senilai sepuluh juta rupiah pertahun, dirasakan sangat minim disbanding frekwensi patroli. Karena untuk sekali patroli, kapal membutuhkan tidak kurang dari satu drum bahan bakar minyak. Belum lagi, dengan kerap terjadinya pembengkakan biaya rapat tingkat Muspika untuk membahas laporan warga masyarakat terkait kegiatan illegal fishing di sejumlah wilayah perairannya, yang memaksa patrol dadakan kerap dilakukan aparat pemerintah setempat.. (R.05)