>Bulukumba Terancam Krisis Pangan Areal Sawah Berkurang 2.000 Hektare


>Persediaan pangan lokal khususnya beras di Kabupaten Bulukumba diprediksi menurun signifikan beberapa waktu ke depan. Hal itu dimungkinkan banyaknya areal persawahan yang beralih fungsi menjadi kawasan perumahan atau kawasan bisnis lainnya.

Dinas Pertanian Bulukumba tahun ini mencatat pengurangan areal sawah sekira 2.000 hektare tahun ini. Beberapa tahun lalu jumlah areal sawah Bulukumba mencapai 24 ribu hektare. Tahun ini turun menjadi 22 ribu hektare.

Kondisi ini membuat Bulukumba terancam krisis pangan. Sebab, pengurangan areal persawahan berpengaruh besar terhadap ketersediaan stok pangan di daerah ini.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Bulukumba Emil Yusri mengatakan, terjadinya perubahan pola hidup masyarakat menjadi pemicu utama makin berkurangnya lahan pertanian. Sebagian warga beralih mata pencaharian dari bertani menjadi pedagang atau memanfaatkan lahannya untuk kebutuhan lain seperti membangun rumah.

Kondisi ini disebabkan semakin kurangnya animo masyarakat untuk bercocok tanam dan semakin terbatasnya lahan pertanian. Meskipun, kata dia, ada penambahan areal sawah, namun hal tersebut tidak sebanding dengan jumlah lahan yang beralih fungsi.

“Saat ini kami baru memprediksi potensi produksi ketersediaan pangan tahun depan karena kami menimbang-nimbang lagi tentang risiko kekurangan lahan lagi,” katanya.

Dijelaskan penurunan areal sawah seluas 2.000 hektare per tahun akan berdampak pada turunnya produksi sebanyak 10.000 ton gabah kering giling (GKG). Jika sebelum pengurangan produksi bisa mencapai 254.000 ton GKG, maka setiap tahun menurun signifikan. Padahal, kebutuhan justru makin meningkat.

Menurut dia, penambahan luas lahan sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah terobosan baru untuk intensifikasi. Misalnya dari dua kali panen menjadi tiga kali atau lebih dari itu.
Emil mengungkapkan, salah satu masalah dalam peningkatan produksi pertanian karena kurangnya ketersediaan air untuk petani.

Bahkan dia juga sangat menyayangkan adanya pembelokan arus sungai di daerah perbatasan Bulukumba-Bantaeng yang membuat ribuan hektare lahan terancam tidak terairi. Kondisi ketersediaan air, kata dia, menjadi salah satu kunci untuk menghindari krisis pangan dan meningkatkan produksi pertanian.

“Kalau lahan baru ingin dibuka itu mustahil bisa optimal jika tidak ada jaminan ketersediaan air untuk pengairan,” ujarnya.

Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan mengatakan, dirinya siap membangun sistem irigasi yang menjamin ketersediaan air bagi petani. Bahkan Zainuddin berjanji akan menggenjot perluasan areal sawah menjadi 36 ribu hektare secara bertahap. Dari jumlah ini dia menargetkan produksi beras berada pada kisaran 4-5 ton per hektare.

Dengan jumlah ini, Zainuddin yakin, stok pangan di Bulukumba aman. “Tapi ini masih akan saya bicarakan dengan dinas pertanian, saya mau lihat dulu kemungkinan-kemungkinan lainnya karena jujur saya belum mendapatkan gambaran secara menyeluruh,” ujarnya. (arm)