>TKW Disiksa, Arab Saudi Terancam di-Blacklist


>

Kemenlu Kirim Nota Diplomatik

Penyiksaan biadab terhadap Sumiati binti Salan Mustafa, 23 tahun, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Dompu, NTT, ketika bekerja di Arab Saudi terus menggelinding. Sumiati yang dihajar majikannya Khalid Saleh Mohammad Al Hamimi dan digunting bibir atasnya harus menjadi korban terakhir penyiksaan buruh migran.

Karena itu, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Kementerian Tenaga Kerja satu kata memberlakukan sanksi dan memrotes keras kejadian di luar batas perikemanusiaan itu.

“Ini kejadian sangat serius, jadi besar kemungkinan kami tidak hanya sekedar memrotes tapi menuntut keadilan. Bila perlu Arab Saudi akan kami blacklist dari daftar pengiriman TKI,” ancam Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, malam tadi.

Luka yang dialami Sumiati antara lain, luka bakar di beberapa titik di tubuhnya. Kedua kakinya nyaris lumpuh. Kulit tubuh dan kepalanya terkelupas. Jari tengahnya retak. Alis matanya rusak. Yang paling parah, bibir bagian atas Sumiati hilang.

Saat ini, Kemenakertrans mempersiapkan tim pendamping untuk memfasilitasi keberangkatan perwakilan keluarga Sumiati dan menyelesaikan permasalahan di Arab Saudi. Kehadiran perwakilan keluarga diharapkan memberikan dorongan moral dan mempercepat pemulihan kesehatan Sumiati.

“Tim pendamping dari pemerintah Indonesia itu terdiri atas petugas yang berasal dari Kemenakertrans, Kemenlu, BNP2TKI serta perwakilan dari Asuransi TKI dan PPTKIS yang memberangkatkan Sumiati,” ujar Muhaimin.

Mantan Wakil Ketua DPR RI itu mengatakan, pihaknya telah menghubungi keluarga. Hasilnya, mereka meminta perwakilan yakni Zulkarnain, selaku pamannya Sumiati untuk berangkat ke Arab Saudi. Muhaimin mengatakan bahwa perusahaan yang membrangkatkan Sumiati yakni PT Rajana Falam Putri dan perusahaan Asuransi Daman Syamil telah sepakat untuk menuntaskan kasus ini.

“Mereka siap menanggung biaya pengobatan, perawatan serta pencairan asuransi” sesuai ketentuan,” kata dia.
Selain itu, pihak asuransi TKI pun telah bersedia menangung semua biaya yang terkait dengan proses penuntutan hukum kepada pihak majikan serta biaya untuk menyewa pengacara.

Direktur Perlindungan dan Advokasi untuk Kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa BNP2TKI, Syaiful Idhom mengatakan, Sumiati kini dirawat intensif di Rumah Sakit King Fahd Madinah akibat luka serius di kedua kaki, sekujur tubuh, wajah, termasuk mengalami pengguntingan mulut (bibir bagian atas).

Sumiati berasal dari Desa Jala, Kecamatan Huu Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, sekitar 18 jam perjalanan dari Mataram. “Alhamdulilah, kondisinya kini sudah stabil dan sudah bisa berkomunikasi walaupun masih minim,” kata dia.

Ditambahkan, Sumiati yang kelahiran Dompu, 2 Januari 1987 itu diberangkatkan PT Rajana Falam Putri dari Mataram ke Jakarta 23 Juni 2010 dan kemudian pada 18 Juli 2010 menuju Medinah untuk bekerja sebagai TKI Penata Laksana Rumah Tangga. Agen perekrut Sumiati di Medinah yaitu Al Mechdor Manpower Services, Madinah.

Sumiati, lanjut Syaiful, tercatat pula dalam program asuransi TKI melalui PT Asuransi Damam Syamil dengan nomor peserta asuransi 011007202401. Pihak Asuransi Damam Syamil juga telah dimintai keterangan oleh BNP2TKI, berbarengan hari pemanggilan PT Rajana tersebut. “Untuk kasus Sumiati PT Asuransi Damam Syamil menghitung besarnya pembayaran santunan sekitar Rp40 juta,” kata dia.

PT Rajana Falam Putri, perusahaan yang menempatkan Tenaga Kerja Indonesia asal Dompu, Nusa Tengara Barat, Sumiati Binti Salam Mustopa di Medinah, Arab Saudi. Perusahaan itu beralamat di Jalan Haji Saidi No 46 Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Tatang Budiutama Razak mengatakan, pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan nota protes kepada pemerintah Arab Saudi. Karena kekerasan kepada Sumiati itu dinilai telah melecehkan harga diri bangsa Indonesia. Sumiati diduga kuat mengalami kekerasan berulangkali oleh majikan perempuannya.

Ia bahkan sempat ditolak rumah sakit swasta di Medinah karena luka yang dideritanya sangat berat. “Padahal, gajinya dalam satu bulan pun sebenarnya tak besar, hanya 800 riyal atau setara dengan Rp 1,9 juta. Kami sangat berduka dengan kejadian ini,” ucapnya. (zul)