>Penyerapan Beras Rendah Bisa Ganggu Stok Pangan


>


BERAS. Buruh salah satu perusahaan di Makassar memikul beras yang baru sajar tiba dari daerah Beras tersebut sebagian dilepas ke pasar lokal selebihnya dikirim ke provinsi lain. (Foto Dok/Fajar)

MAKASSAR — Rendahnya penyerapan beras petani Sulsel oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak hanya membuat spekulasi harga di pasaran. Daya serap yang rendah juga rawan mengakibatkan masalah pada ketahanan pangan.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel melaporkan penyerapan beras petani di Bulog hanya sekitar 160 ribu ton. Jumlah ini masih sangat jauh dibanding target sekitar 450 ribu ton.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, harga beras di level pedagang sebenarnya lebih tinggi dari harga pembelian Bulog. Petani juga tentu saja lebih untung dengan harga jual lebih tinggi.

“Tapi Bulog kalah penyerapannya oleh pedagang kan? Sebenarnya tidak apa-apa kalau pembelian di petani meningkat. Tapi bukan itu masalahnya. Ini menyangkut ketersediaan pangan,” katanya, Selasa, 16 November.

Bila harga beli di petani terus tinggi tanpa kontrol penyangga dari Bulog, suatu saat nanti harga di tingkat pembeli umum akan melambung liar. Akibatnya, daya beli masyarakat menjadi rendah.

Di sisi lain, Bulog yang harusnya menjadi penyangga stok komoditas dan distribusi tidak dapat berbuat apa-apa karena produksi petani justru lebih banyak terserap di pedagang. Harga pun menjadi lebih bebas dipermainkan dan pemerintah mengeluarkan subsidi lagi.

“Kalau sudah tidak ada stok beras, barulah sakit kepala memikirkan penambahannya. Yang jelas saya sudah mendorong agar Bulog segera menyerap beras petani. Bukan salah saya lagi kalau tiba-tiba harga melambung dan tidak ada pengaman,” kata Syahrul.

Dia mengatakan, selama ini mutu beras petani disebut rendah akibat kadar air yang tinggi. Masuk di gudang penyimpanan menjadi kuning. “Tapi buktinya di pedagang laku dan banyak diantarpulaukan,” tuturnya.

Sebenarnya, kadar air yang tinggi tidak menjadi masalah utama karena Bulog memiliki alat pemutih dan penurun kadar air. Bila beras petani bisa terserap dan diproses di Bulog, ada kepastian stok pangan. Memang diakuinya, biayanya tentu akan lebih tinggi bila menggunakan teknologi tersebut.

Kekhawatiran suatu saat akan melambungnya harga beras cukup tinggi berdasarkan kenyataan pasar. Syahrul mengaku pernah bertemu seorang pedagang beras dari Gorontalo yang membeli beras petani Sulsel Rp4000 per kilogram. Beras tersebut lalu dijual kembali di daerahnya sekitar Rp7000.

Pemprov Sulsel tengah menggenjot pengadaan gudang, pengering, dan silo penampung produksi petani minimal lima unit di setiap sentra produksi. Keberadaan silo dan pengering dapat membuat petani memiliki nilai tawar lebih tinggi. (rif)