>Jemaah Makassar tak Hiraukan Imbauan PPIH Tetap Berangkat Pagi ke Jamarat


>


H SILAHUDDIN GENDA

Ritual melempar jumrah di Mina, Selasa 16 November berjalan lancar. Meski sempat berdesak-desakan, tapi tak ada insiden berarti terjadi di kawasan yang pernah merenggut nyawa jemaah haji hingga ribuan orang itu.

Yang terdengar hanya gema takbir dikumandangkan seluruh jemaah yang sejak dinihari berjalan di terowongan Mina untuk akses menuju pelontaran jumrah di bangunan besar bernama “aqobah”. Semua jemaah dari berbagai negara wajib melempar (batu kerikil) yang diambil dari Muzdalifah.

Sejak jamarat dibuka pukul 24.00 Selasa dini hari, lautan umat manusia berihram putih-putih meruah di sepanjang jalan dari Muzdalifah menuju Mina. Ada yang naik bus, juga sebagian berjalan kaki dari Muzdalifah.

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) melarang jemaah haji Indonesia untuk melempar jumrah aqabah pada Selasa pagi waktu Arab Saudi (WAS). Pasalnya, kondisi terowongan Muazim, lebih dikenal dengan sebutan terowongan Mina, sangat padat dan terlihat titik-titik orang berdesak-desakan.

Hal sama juga terjadi di jembatan jamarat, tempat melempar jumrah aqabah bagi tiga juta lebih jemaah haji dunia. “Kami keluarkan aturan untuk jemaah bisa melempar jumrah sekitar pukul 16.00 WAS. Ini untuk menghindari hal buruk yang bisa terjadi,” kata Kepala Satuan Operasional (Kasatop; PPIH) Mina, Subakin Abdul Mutholib, Selasa 16 November.

Meski ada larangan tersebut, rombongan jemaah asal Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan dan Makassar, tetap tak menghiraukan. Pagi kemarin, rombongan ini melintas dengan gerak cepat menuju tempat pelontaran jumrah di Mina.

Mereka hanya berteriak “Makassar” saat melambung iring-iringan jemaah haji Konsorsium La Ilaha Illallah persis di terowongan Mina. Dengan mudah mereka bisa dikenali, karena pada seragam mereka tertulis Makassar dan Sidrap.

FAJAR yang turun pagi menjelang salat subuh di Jamarat bersama rombongan Konsorsium, berjalan lancar. Memang, beberapa titik terjadi penumpukan jemaah hingga terjadi desak-desakan, tapi lebarnya jalan di sepanjang terowongan Mina hingga lokasi jamarat tak membuat jemaah harus berebutan tempat.

Lokasi jamarat juga lebih bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya –dibangun empat lantai. Namun, akses ke lantai empat masih dibatasi. Jemaah terkonsentrasi di lantai 1, dan 2. Sebenarnya, empat lantai jamarat sudah bisa digunakan. Untuk melempar jumrah di lantai satu, jemaah cukup berjalan lurus.

Namun, ketika hendak ke lantai tiga, jemaah harus lewat eskalator. Dua eskalator di ujung lantai dioperasikan. Yang di tengah masih ditutup. Lantai empat hanya digunakan sebagai cadangan apabila lantai 1–3 penuh.

Desak-desakan baru berlangsung pada puncaknya yang terjadi setelah matahari terbit kemarin yang merupakan keutamaan melempar jumrah aqabah. “Syukur kita masih bisa melenggang dengan bebas ke jamarat. Ya, mungkin kalau datang pagi pasti kita juga akan berdesak-desakan dengan jemaah lain,” tutur Onasis, tim medis Konsorsium La Ilaha Ilallah, kemarin.

Sebelumnya, jemaah Konsorsium mengagendakan untuk turun ke jamarat pada pagi sekitar pukul 08.00 waktu setempat, namun menghindari kemungkinan desak-desakan, akhirnya diputuskan turun melontar jumrah sebelum subuh.

Apalagi, jemaah Konsorsium memilih melontar di lantai 3 yang tidak banyak diakses jemaah lainnya. “Kita juga bisa cepat ke Mekah untuk melakukan tawaf dan sai,” ujar Sultan Patahangi, jemaah lainnya.

Di Mekah, sore kemarin, jalan-jalan protokol dan Masjidilharam kembali dipadati jemaah haji. Seusai melontar jumrah, hampir semua jemaah bergerak lagi ke Masjidilharam untuk melakukan tawaf ifadah dan sai. Sehingga, sore hingga malam, jemaah sangat sulit bergerak melakukan tawaf dan sai di Masjidilharam.

Selain itu, sebagai penghormatan pada hari kemenangan ini, para jemaah berlomba-lomba mencukur rambutnya (gundul). Di jalan-jalan sepanjang Mekah, tampak para jemaah saling mencukur rambut, sehingga sisa-sisa rambut berhamburan di jalan-jalan. Pada umumnya, jemaah yang melakukan itu adalah warga Arab, Turki, Pakistan, Bangladesh, dan negara tetangga Arab lainnya. (*)