>Bank Milik Negara Raup Laba Terbesar


>

JAKARTA — Pantas saja, investor asing berbondong-bondong masuk ke industri perbankan di Indonesia. Pasalnya, pundi-pundi laba yang diraup bank-bank di Indonesia terus menggunung.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia (BI) Difi Johansyah mengatakan, merujuk data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dirilis Selasa lalu, laba industri perbankan nasional per akhir September 2010 mencapai Rp43,36 triliun, tumbuh 26,54 persen dibandingkan September 2009 (year-on-year) yang sebesar Rp34,26 triliun. “Kelompok bank BUMN meraup laba terbesar,” ujarnya Selasa, 16 November.

Data BI menunjukkan, laba setelah pajak yang diraup kelompok bank pelat merah sudah menembus angka Rp16,20 triliun, atau tumbuh 39,90 persen dibandingkan laba September 2009 yang sebesar Rp11,57 triliun. Selain paling besar secara nominal, bank BUMN juga menjadi kelompok bank dengan persentase pertumbuhan paling tinggi.

Posisi kedua ditempati oleh Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa. Hingga September 2010, laba yang diraup kelompok bank-bank swasta besar yang kini sahamnya banyak dikuasai investor asing ini mencapai Rp15,94 triliun, naik dibandingkan laba per September 2009 yang sebesar Rp11,49 triliun.

“Jadi, pertumbuan laba BUSN devisa mencapai 38,78 persen, sedikit di bawah pertumbuhan laba bank BUMN,” kata Difi.

Kelompok bank lain yang juga mencatat pertumbuhan laba signifikan adalah Bank Pembangunan Daerah (BPD). Per akhir September 2010, laba yang berhasil dihimpun oleh bank-bank milik Pemerintah Daerah ini sudah menembus Rp6,42 triliun. “Tumbuh 25,65 persen dibandingkan laba September 2009 yang sebesar Rp5,11 triliun,” terangnya.

Namun, rupanya, hanya tiga kelompok bak itulah yang berhasil mencatat lonjakan laba. Pasalnya, tiga kelompok bank lain, yakni BUSN Non-devisa (bank swasta kecil), Bank Campuran, serta Bank Asing (murni), raihan labanya justru merosot.

Difi menyebut, laba kelompok Bank Campuran secara year-on-year turun 4,19 persen dari Rp1,59 triliun menjadi Rp 1,53 triliun. Adapun laba kelompok Bank Asing turun 27,13 persen dari Rp4,11 triliun menjadi Rp2,98 triliun.

Sedangkan penurunan laba terbesar terjadi pada kelompok BUSN nondevisa. Per September 2010, laba kelompok ini hanya sebesar Rp 268 miliar, atau merosot 28,15 “persen dibandingkan perolehan laba pada posisi September 2009 yang sebesar Rp373 miliar.

Difi menambahkan, secara keseluruhan, laba perbankan nasional yang mencapai Rp43,36 triliun ditopang oleh naiknya pendapatan operasional bank yang mencapai Rp258,48 triliun, naik 15,34 persen dibandingkan pendapatan operasional pada periode September 2009 yang sebesar Rp224,10 triliun.

Pendapatan tersebut, lanjut Difi, masih ditopang oleh dominasi pendapatan bunga yang mencapai Rp185,74 triliun, disusul keuntungan transaksi valas Rp35,92 triliun, dividen/komisi/provisi/fee sebesar Rp22,09 triliun, kenaikan surat berharga Rp7,07 triliun, serta dari pos lain-lain sebesar Rp7,65 triliun.

Selain pendapatan yang naik, kata Difi, bank juga terlihat makin efisien. Ini tecermin dari pertumbuhan beban operasi yang sebesar 13,89 persen, dari Rp195,88 triliun pada September 2009 menjadi Rp223,10 triliun pada September 2010. “Artinya, pertumbuhan pendapatan lebih tinggi dari pertumbuhan beban operasional,” ujarnya. (jpnn)