>Sulsel Harus Bebas dari “Wartawan Koboi”


>Ketua PWI Sulsel 2010-2015, Zulkifli Gani Ottoh
Zulkifli Gani Ottoh akhirnya terpilih kembali memimpin organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel, periode 2010-2015, melalui Konferensi Cabang (Konfercab), Sabtu (30/10). Apa saja program-program kerja yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan? Berikut petikan wawancara wartawan Harian Ujungpandang Ekspres, Dewi Yuliani, dengan Zulkifli Gani Ottoh, di Kantor PWI Sulsel, Minggu (31/10).
Pada Konferensi PWI Cabang Sulsel kemarin, Bapak sudah terpilih kembali menjadi Ketua PWI Sulsel periode 2010-2015. Tetapi, masih banyak yang tidak menerima hasil konfercab. Bagaimana Bapak menyikapi hal itu?
Pertama-tama, Alhamdulillah, karena teman-teman di PWI mayoritas memberikan kepercayaan kepada saya kembali menjadi Ketua PWI Sulsel.
Saya rasa perbedaan merupakan hal yang wajar, apalagi bagi organisasi yang pemilihan ketuanya menggunakan sistem demokrasi. Tetapi, yang harus dipahami, PWI merupakan organisasi yang berbeda dengan organisasi lainnya. Di organisasi kewartawanan ini, yang paling utama adalah pengabdian, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
Pada konfercab kemarin, memang berlangsung alot, bahkan pemilihan baru berakhir pukul 03.00 WITA, Minggu (31/10). Namun tetap berlangsung secara demokrasi. Mereka yang menggunakan hak pilihnya, memilih berdasarkan hati nurani. Dari 600 anggota PWI, sekira 466 menggunakan hak pilihnya. Sekira 65% anggota PWI telah memberikan amanah kepada saya. Nah, kalaupun ada yang tidak setuju atau tidak mendukung, itu biasa. Asal, jangan menjelek-jelekkan. Mari kita bersama-sama membawa organisasi ini dan wartawan agar lebih maju lagi.
Program-program kerja apa saja yang akan Bapak lakukan untuk lima tahun ke depan?
Ada emapt program pokok yang akan saya laksanakan. Pertama, masalah pendidikan untuk wartawan. Insya Allah, awal tahun depan, kami akan menggelar Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dalam hal ini Dinas Pendidikan Sulsel. Memorandum of Understanding (MoU) sudah ditandatangani Gubernur Sulsel. SJI akan menghasilkan wartawan muda yang berkualitas, berwawasan dan beretika. Semua materi kewartawanan akan diajarkan, termasuk bagaimana menaati Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Selain itu, ada pendidikan yang akan digelar internal PWI ataupun bekerjasama dengan pihak ketiga. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan kompetensi wartawan.
Kedua, bidang kesejahteraan. Kita harapkan, semua anggota PWI diperhatikan tingkat kesejahteraannya. PWI akan memantau bagaimana perusahaan-perusahaan pers memberikan kesejahteraan bagi para wartawannya. PWI akan melihat dan memantau, apakah perusahaan pers menaati Undang-undang Nomor 40 tentang Pers. Khususnya, karyawan pers memiliki saham minimal 20%. Selain itu, secara internal organisasi, PWI juga akan mensejahterakan anggotanya. Misalnya, bekerjasama dengan pihak ketiga, yakni pengusaha perumahan, dibangun perumahan wartawan. Saat ini, sudah ada di Hartako. Sekarang, sedang dibangun lagi di Kabupaten Maros.Disamping itu, bagi wartawan yang memiliki putra dan putri berprestasi, akan disediakan beasiswa untuk mereka. PWI juga memperhatikan janda-janda wartawan dan duda-duda wartawati serta yatim piatu wartawan.
Ketiga, bidang pembelaan wartawan. Tahun 2011, PWI akan memiliki lembaga bantuan hukum, bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI). Lembaga ini akan memantau wartawan-wartawan yang bekerja di tempat kerjanya, apakah perusahaan pers tempatnya mengabdi peduli terhadap mereka. Jika tidak, dan ada keluhan atau laporan dari wartawan yang bersangkutan, kami akan ajukan tuntutan hukum. Pembelaan atau bantuan pendampingan secara hukum juga akan diberikan bagi wartawan-wartawan yang terlibat masalah hukum karena kegiatan jurnalistiknya. Bukan hanya anggota PWI yang diberikan bantuan hukum, tetapi juga bagi wartawan lain yang bukan anggota PWI.
Keempat, bidang organisasi. Bagi wartawan baru yang akan mendaftar sebagai anggota PWI, akan terlebih dahulu diverifikasi, harus lulus standar kompetensi. Minimal, harus memiliki ijazah D3 dan telah bekerja selama dua tahun di medianya. Sebelum masuk jadi anggota, akan diuji melalui pendidikan di PWI. Wartawan yang memiliki kompetensi, profesional dan punya gaji tetap setiap bulannya bisa ditolerir sebagai anggota PWI.
Disamping itu, PWI juga akan mendatabasekan semua wartawan yang ada di Sulsel. Database itu akan dikirimkan ke semua instansi. Setiap tiga bulan, database juga akan diperbaharui. Sistem database harus dilakukan untuk mendukung Piagam Palembang. Apalagi, dua tahun terakhir banyak sekali oknum yang mengaku-ngaku sebagai wartawan. Dengan semua program yang dilaksanakan, PWI akan mengupayakan agar Sulsel bebas dari “wartawan koboi”.
Bagaimana dengan anggota PWI sendiri?Sekarang, banyak anggota PWI yang korannya juga sudah jarang terbit dan seringkali menjadi “wartawan koboi”. Bagaimana menata ini?
Bagi anggota PWI yang terbukti “menyusahkan” orang lain dengan menjadi “wartawan koboi atau wartawan bodrex” akan ditindak tegas. Untuk menghindari hal itu, peningkatan kualitas dan pembinaan juga akan tetap dilakukan bagi anggota-anggota PWI. Selain itu, baik media maupun wartawannya akan berikan logo Dewan Pers, sebagai tanda jika media atau wartawan itu telah disertifikasi. Hal itu pula yang kemudian diback up dengan program database.
Diantara semua program kerja itu, bagaimana bentuk kepedulian PWI terhadap wartawan senior?
PWI selalu peduli dan memperhatikan wartawan senior.Penghargaan setinggi-tingginya juga selalu diberikan PWI terhadap mereka. Para wartawan senior adalah mahaguru bagi wartawan-wartawan pemula. Karena itu, mereka juga akan diajukan sebagai pengajar di SJI nanti. Apalagi, sekira 60% pengajar di SJI masih berasal dari Jakarta. Sehingga, kami sangat membutuhkan partisipasi wartawan senior untuk membimbing dan mengayomi wartawan pemula yang masih baru menjalani profesi di bidang jurnalistik.