>Bertaruh Nyawa Pelototi Merapi


>Pos Sambungrejo…diperhatikan! Sinyal seismograf meliuk-liuk…! segera merapat ke pos induk…!

Demikian percakapan TOPAN operator Pos Induk di dusun Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten memberikan arahan pada para relawan Lowo 907 yang memantau puncak Merapi dari Dusun Sambungrejo. Dusun ini jaraknya hanya 4 km dari puncak Merapi di arah Timur. Posisinya yang strategis dijadikan tempat para relawan komunitas radio dua meteran itu untuk mengamati Merapi.

Selain mengamati aktivitas Merapi, komunitas ini juga punya peran sebagai pengingat buat warga agar turun mengungsi ke radius aman 10 km.

”Walaupun sudah ada peringatan untuk mengungsi, warga masih ada yang kembali ke rumah untuk memberi pakan ternaknya. Di sini begitu longgar penjagaannya, tidak seperti di Sleman. Maka dari itu, kami yang berperan sebagai pemberi peringatan buat mereka kalau aktivitas Merapi meningkat,” kata TOPAN yang punya nama asli RAHMADI warga Dusun Sragon, Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Klaten.

Diakui RAHMADI, aktivitas mereka sangat beresiko. Namun dengan koordinasi lewat radio panggil HT, biasanya informasi terkini tentang Merapi jadi cepat tersebar. Komunitas ini berdiri sejak sebelum Merapi meletus tahun 2006. Dengan beraktivitas di frekwensi 149.070 MHz, saat ini anggota resminya sudah ribuan orang.

Mulanya, kata RAHMADI, komunitas ini pernah dipermasalahkan oleh dua organisasi radio amatir seperti Orari dan RAPI karena penggunaan alat dan frekwensinya dikatakan ilegal. Namun belakangan, karena manfaatnya sangat besar, terutama untuk mengabarkan kondisi terkini Merapi, pemerintah dan dua organisasi radio amatir itu pun mendiamkannya,

Bahkan saat-saat tertentu, seperti waktu aktivitas Merapi meningkat, frekwensi ini dijadikan andalan, bukan hanya oleh warga sekitar, namun juga oleh pemerintah, dan bahkan konon Gubernur DIJ.

Anggota komunitas ini pun beragam, mulai dari politisi sampai pengangguran, baik yang aktif berkomunikasi dua arah lewat HT maupun yang hanya mendengar saja, juga yang sampai merelakan waktunya untuk jadi relawan pemantau Merapi.

”Kebanyakan yang jadi relawan pemantau Merapi adalah warga sekitar lereng Merapi juga. Mereka tersebar dari Sleman, Klaten, Magelang, dan Boyolali. Dari masing-masing sisi pemantauannya, kita bisa mengetahui bagaimana kondisi Merapi lebih update,” kata dia.

Selain memantau secara visual, komunitas ini juga memantau Merapi lewat sinyal seismograf yang dipancarkan sensor di puncak Merapi oleh BPPTK Yogyakarta beberapa tahun silam. Sinyal ini bisa dipantau lewat frekwensi 167.500 MHz dan 166.000 MHz. Jika sinyal berbunyi landai, artinya tidak ada aktivitas Merapi, tapi kalau bunyi sinyalnya meliuk-liuk, berarti ada aktivitas dan ini harus diwaspadai.

Selama bertahun-tahun secara swadaya, komunitas ini bekerja dan memberikan informasi pada masyarakat, belum pernah sekalipun ada bantuan dari pemerintah. ”Kami bekerja mandiri, independen, dan tidak mau diintervensi oleh pihak manapun, termasuk pemerintah karena kami bekerja dari kami untuk kami juga,” kata dia.(edy)

Teks Foto :
– Anggota komunitas 907 sedang mengamati Merapi.
Foto : EDDY suarasurabaya.net